Youth English Camp (YEC)

From YEC to Aussie: Perjalanan Agus meneliti Mikroplastik

Di balik laboratorium yang tenang di University of Western Australia (UWA), seorang mahasiswa muda asal Indonesia, Agustiawan, menulis kisahnya sendiri. Kisah tentang ketekunan, keberanian melangkah keluar dari zona nyaman, dan komitmen terhadap sains lingkungan. Dan kini, perjalanan itu mengantarkannya pada pencapaian luar biasa: publikasi di jurnal Q1 Elsevier Marine Pollution Bulletin, jurnal internasional prestisius yang sangat selektif di bidang penelitian lingkungan laut.

Tetapi perjalanan tersebut tidak dimulai di Australia. Ia dimulai bertahun-tahun sebelumnya, di Youth English Camp (YEC) — tempat di mana kecintaan untuk belajar dan komunikasi itu pertama kali tumbuh.

Penelitian yang dilakukan Agustiawan berfokus pada Shelly Beach, sebuah wilayah yang begitu terpencil di pesisir Australia Barat sehingga hanya bisa diakses melalui perjalanan perahu dan trekking panjang. Tempat itu tampak seperti surga yang jauh dari polusi — namun kenyataannya tidak demikian.

Meskipun lokasi tersebut menjadi bagian penting dalam studinya, Agustiawan, menegaskan bahwa ia tidak melakukan perjalanan langsung ke Shelly Beach. Sebaliknya, sampel-sampel mikroplastik telah dikumpulkan oleh tim lapangan (citizen science dan ecotourism dari WOW Wilderness) dalam program jangka panjang, lalu dikirimkan langsung oleh supervisornya ke laboratorium UWA.

“Saya tidak pergi ke pantainya, tetapi setiap sampel yang saya pegang membawa cerita tersendiri,” katanya sambil tersenyum. “Saya merasa seperti memegang fragmen kecil dari masalah besar yang terjadi di laut kita.”

Enam Bulan Penuh Ketelitian di Laboratorium UWA

Sampel-sampel kecil itu yang pada umumnya berbentuk butiran nurdle, serpihan plastik keras, dan fragmen yang nyaris tak terlihat, menjadi bagian dari rutinitasnya selama enam bulan penuh. Setiap hari, ia memasuki laboratorium, mengenakan jas lab, dan menyiapkan alat analisis dengan prosedur yang presisi.

Di sinilah ia menghabiskan ratusan jam bekerja dengan Raman spectrometry, alat ilmiah canggih yang digunakan untuk mengidentifikasi komposisi kimia plastik berdasarkan pola getaran molekulnya.

“Raman spectrometry menuntut ketelitian tinggi,” jelasnya. “Ada sampel-sampel yang sangat kecil, kadang hampir menyatu dengan pasir. Dibutuhkan kesabaran untuk mendapatkan spektrum yang bersih dan dapat digunakan.”

Selama berbulan-bulan, ia memeriksa puluhan hingga ratusan potongan plastik setiap minggunya. Beberapa sampel berwarna cerah, beberapa sudah memudar, dan sebagian lainnya nyaris tak berbentuk lagi. Namun semuanya menyimpan data penting yang berkontribusi pada pemahaman global tentang perjalanan mikroplastik di lautan.

Hasil analisis laboratorium yang ia kerjakan menjadi bagian penting dalam sebuah penelitian bersama tim UWA. Puncaknya adalah ketika makalah itu dinyatakan diterima dalam Marine Pollution Bulletin (Elsevier) — Jurnal Q1 dan salah satu yang terbaik di dunia dalam bidang polusi laut.

Selama proses penulisan, ia terlibat dalam penyusunan, revisi, dan diskusi akademik dengan dua supervisornya yang (Dr. Peter Speldwinde dan Dr. Harriet Paterson). Baginya, membaca komentar reviewer internasional, memperbaiki naskah, dan memastikan data dapat dipertanggungjawabkan adalah pengalaman berharga yang memperluas pemahaman tentang dunia akademik global.

“Saat menerima email bahwa publikasi kami diterima, rasanya seperti mimpi,” katanya. “Saya tahu betapa sulitnya menembus jurnal Q1, apalagi Elsevier. Tapi usaha enam bulan di laboratorium itu terbayar.”

Penelitian yang Mengubah Cara Pandangnya terhadap Dunia

Selama menganalisis sampel, Agustiawan menyadari sesuatu yang mengusik pikirannya. Meskipun Shelly Beach jauh dari pemukiman dan industri, pantai itu dipenuhi mikroplastik — menunjukkan betapa luas dan tak terbendungnya polusi laut.

“Plastik itu bisa berasal dari mana saja. Bisa dari negara lain, bahkan mungkin dari Indonesia,” katanya.

Ini menyalakan tekad dalam dirinya untuk suatu hari meneliti hubungan antara arus laut Indonesia dan Australia, terutama bagaimana polusi dapat melintasi perbatasan tanpa pernah terlihat.

Kini, setelah berhasil menembus jurnal Q1, Agustiawan ingin melangkah lebih jauh. Ia bermimpi membangun kolaborasi penelitian antara kedua negara.

“Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia. Kita punya peran besar dalam isu mikroplastik,” katanya. “Saya ingin membawa pulang ilmu ini dan mengembangkan penelitian yang bermanfaat bagi negara saya.”

Benang Merah dari YEC ke Australia: Keterampilan yang Menentukan

Ketika ditanya apa yang membawanya mampu bertahan dalam dunia akademik Australia yang kompetitif, ia menjawab tanpa ragu: Youth English Camp (YEC).

Menurut Agustiawan, YEC bukan hanya sebuah program bahasa. Itu adalah titik awal yang membentuk cara berpikir, menulis, dan berkomunikasinya.

1. YEC mengubah cara ia belajar bahasa

Di YEC, ia tidak hanya belajar grammar atau vocabulary. Ia belajar berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mendengarkan orang lain — kompetensi penting dalam perkuliahan internasional.

“Saya tidak kaget ketika kuliah di Australia semuanya berlangsung cepat. Karena di YEC saya sudah terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris selama berjam-jam.”

2. YEC melatih kemampuan menulis sejak dini

Saat menulis jurnal ilmiah pertamanya, ia merasa terbantu oleh latihan-latihan menulis di YEC: mulai dari membuat opini, esai, dan laporan yang ditujukan untuk belajar bahasa namun dibalik itu juga melatih kemampuan kita untuk menulis lebih kritis.

“Saat mengerjakan draf publikasi, saya merasa seperti kembali ke hari-hari di YEC ketika kami belajar struktur tulisan yang jelas, logis, dan rapi.”

3. YEC memberinya kepercayaan diri menghadapi dunia internasional

“Di YEC, saya menemukan keberanian untuk mendaftar UWA, dan masuk tim penelitian,” ujarnya. “Program itu membuat saya percaya bahwa saya mampu berkompetisi dengan siapa pun, karna selama di YEC saya bertemu dengan teman-teman dan orang-orang hebat yang memiliki semnagat dan visi yang sama untuk belajar dan saling berbagi pengalaman”

Penutup: Perjalanan yang Baru Dimulai

Kisah Agustiawan menunjukkan bahwa perjalanan menuju pencapaian besar tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar pula. Terkadang dimulai dari:

  • Lingkungan yang saling mensupport seperti di Youth English Camp,
  • Sebuah kesempatan belajar dan saling membantu,

Tetapi dari setiap langkah itu, ia berhasil menciptakan jejak yang kini diakui dalam dunia sains internasional.

Dan kisah ini, tampaknya, baru permulaan.